Cruel Feeling
Cruel feeling, kenapa ya aku bisa menggolongkan perasaan suka ke
situ.
Entahlah! yang jelas
sesuatu akan lebih kejam lagi jika jarak pencapaiannya sangat jauh, bahkan lebih
jauh dari jarak rumah aku ke sekolah.
Itupun jika kita sukses
pakai rumus GLB, belum lagi hambatan-hambatan lainnya.
Suka seseorang itu gak
sama persis dengan apa yang digambarin sinetron-sinetron atau film-film di
televisi meskipun basicnya sama. Kalau menurutku, semua orang juga tau deh tergantung individunya.
Setelah melalui
pengamatan, suka sama seseorang bisa digolongkan sebagai berikut :
1. Privasi Safer
Nah yang kayak gini
sering banget di lakuin orang terutama ketika duduk di bangku SD.Aduuuh
betapa, emang cinta monyet gak menjamin keseriusan hati. Tapi
sepertinya dengan berdiam diri bisa membuat orang-orang justru cenderung menipu
dan membujuk hatinya sendiri dengan kenyataan lain. It works some lies. Selain itu, mereka juga bisa cenderung ke perilaku backstaber. Contohnya suka sama si A, tapi
si A jadian sama sahabatnya sendiri. Kayaknya dia ikut seneng tapi dalam
hatinya menangis kaca bahkan bisa merencanakan sesuatu lain yang berbahasa.
Hati-hati ya sama tipe muka dua seperti ini.
2. Frontal
Abege labil seperti ini
boleh-boleh aja melakukan kalau sudah bener-bener pasti ya. Ada juga kan yang
udah frontal sampai akhirnya malu gara-gara gak jadi. Perilaku seperti ini ada
bagusnya, itu berarti mereka lebih terbuka dengan perasaan meskipun agak lupa
sama limit. People thinks it as a bad
behavior. Ewww.
3. Pertengahan
Kalau ada yang berlebihan
atau terlalu kurang pasti beberapa lebih milih ke golongan ini. Golongan ini
gak frontal, mereka lebih suka menyampaikan maksud ke umum dengan tersirat
bukan tersurat. Golongan ini juga tidak diam, mereka setidaknya mempercayai seseorang
dalam menjaga rahasia tentang perasaan mereka. It’s good for some reasons J.
Okay deh, kembali ke Cruel Feeling. Tema ini aku ambil bukan
untuk membahas pembunuhan berantai atau fitnah memfitnah. Intinya ini something cruel inside. Kita tahu kan peribahasa, eh
kenyataan bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi kadangkala tidak bisa diberikan
begitu saja, harus melalui proses yang cukup rumit hingga semakin rumit segala
sesuatu akan terasa berkesan. (Kalian ngerti kan maksud tersirat ini) hmmm sori deh bukan orang yang
pandai bikin kata-kata. Sometimes it comes by itself.
Kenapa ya seringkali
orang di dekatkan pada sesuatu yang tidak pasti, padahal itu hanya membuat
sakit. Tapi ketika didekatkan pada sesuatu yang pasti, segalanya akan berubah
karena waktu yang tidak tepat. Lalu apa yang harus di lakukan dalam sesuatu
yang seperti ini? Menunggu saja, atau memohon saja, atau melakukan sesuatu,
ahhhh tindakan gila.
I won’t be insane, never!
Tapi sebagai kesimpulan tetep inget peribahasa
aja deh,
“IF HE’S YOUR DESTINY, HE’LL COME TO YOU
WHENEVER, WHEREVER.”
Meskipun dengan penantian yang bisa bikin kita
lebih coklat daripada bule yang berjemur di tengah matahari, tapi percaya aja cruel feeling ini gak bakal bertahan sampai
kita jatuh terpuruk.Just wait yaaa.
No comments:
Post a Comment